Posted in Renungan Hidup

Menjaga Lisan

Rasulullah SAW bersabda : “Janganlah kamu menghina orang lain lantaran sesuatu yang ada pada orang tersebut. Karena setiap daging itu pasti ada tulangnya (setiap manusia, pasti punya kekurangan dan kelebihan). Orang yang menyebarkan gosip pada orang lain, tidak ada yang menebus dosanya. Kecuali meminta maaf pada orang yang digosipkan itu. Hai Ali..Allah tidak menciptakan pada diri manusia suatu perkara yang lebih utama daripada lisan/lidah. Lidah/lisan itu bisa memasukkan orang ke surga, juga bisa memasukkan ke neraka. Maka hendaklah kamu menahan lisan, karena sesungguhnya lisan itu bagaikan anjing galak. Hai Ali..Janganlah kamu menyakiti orang Islam atau makhluk hidup/hewan. Karena siksaan itu akan kembali pada dirimu.” (Kitab Wasiyatul Musthofa)

Advertisements
Posted in Renungan Hidup

Meski Berbeda…

  • Aku dan kamu berlainan,
  • Lain jenis dan pemikiran 
  • Tak perlulah diperdebatkan 
  • Apalagi harus saling berebut kebenaran…
  • Karena hakikatnya perbedaan itu rahmat-Nya 
  • Anggaplah kita benar,
  • Orang lain salah
  • Haruskah merasa paling benar??
  • Memvonis yang berbeda sesat dan kufur??
  • Berbeda itu indah 
  • Adanya perbedaan, untuk saling menguatkan 
  • Bukan untuk terpecah…
  • Apakah dalam keluarga, semuanya tak berbeda??
  • Justru jika tak berbeda, malah terasa aneh..
  • Sudaraku yang pasti berlainan pemikiran,
  • Marilah kita sama-sama merenung 
  • Untuk apa membesarkan perbedaan??!!
  • Sambel terasa nikmat karena berasal dari campuran yang beragam….
  • Negeri ini jadi kuat karena bersatunya kita yang beragam,
  • Tuhan Yang Maha Kuasa menciptakan perbedaan untuk apa..?!
  • Agar hidup kita penuh warna seperti pelangi..
  • Bukankah pelangi indah karena didukung perbedaan warna??

@eljauhary, Cirebon 100117๐Ÿ’•๐Ÿ’—

Posted in Renungan Hidup

Udah 2017๐Ÿ˜‚๐ŸŽ‰๐ŸŽ†๐Ÿ•›

Hari berganti hari..Bulan berganti bulan, sampe akhirnya tahun berganti.

Itulah perputaran kehidupan di dunia, yang mungkin kita jauh tertinggal dari kecepatan waktunya.

Kadang kita bingung harus berbuat apa untuk mengisi waktu agar lebih bermakna dan bermanfaat..

Entah rasa bahagia ataukah kudu bersedih, karena jatah umur kita pasti berkurang dengan bergantinya tahun..๐Ÿ˜ฅ

Yasudah lah..Apapun itu, semoga kita selalu manusia yang lebih baik dari sekarang dan seterusnya..

Amiin kan doa ini..Dan share sebanyak mungkin.. Insyaallah berkah. Takbir ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜โœŠโœŠ

Posted in Tentang Apapun

Selamat Hari Santri Nasional


Diawali dengan pembacaan 1 Miliar Sholawat Nariyah pada Jum’at malam di seantero Nusantara..untuk keselamatan bangsa tercinta ini. Hari ini tanggal 22 Oktober diperingati sebagai Hari Santri Nasional sebagai Resolusi Jihad NU..

Semoga negara tercinta ini, NKRI tetap dalam persatuan dan kesatuan. Damai,aman, tenteram dan dilimpahkan banyak keberkahan dari Allah SWT. Aamiin..

Tetaplah menjadi santri yang rendah hati, jangan mudah emosi dan terprovokasi. Jangan kagetan, hargailah perbedaan. Utamakan akhlak mulia yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW.

Santri itu tetap ngaji selamanya (saklawase). Karena hakekatnya kita adalah orang bodoh yang tak kunjung pandai (kutipan dari Gus Mus).

Kata Santri jika ditulis dalam bahasa arab terdiri dari lima huruf, yaitu (ุณู†ุชุฑูŠ). Yang mana setiap hurufnya memiliki kepanjangan serta pengertian yang luas.

1. Sin (ุณ) adalah kepanjangan dari ุณูŽุงููู‚ู ุงู„ุฎูŽูŠู’ุฑู yang memiliki arti Pelopor kebaikan

Oleh sebab itu, setiap santri mesti memiliki jiwa pemimpin dalam melaksanakan kebaikan. Ia mesti menjadi pelopor dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya.

2. Nun (ู†) adalah kepanjangan dari ู†ูŽุงุณูุจู ุงู„ุนูู„ูŽู…ูŽุงุกู yang memiliki arti Penerus Ulama.

Ulama atau di Indonesia lebih dikenal dengan Kiyai/Ajengan tidak bisa muncul begitu saja kecuali ia telah melalui tahapan-tahapan rumit, sebelum kemudian Allah SWT meninggikan derajat keilmuannya ditengah-tengah masyarakat. Tentunya ia harus menjalani masa-masa menuntut ilmu serta penggemblengan dalam pembiasaan beribadah. Oleh sebab itu wajar jika santri dikatakan sebagai penerus ulama.

3. Ta (ุช) adalah kepanjangan dari ุชูŽุงุฑููƒู ุงู„ู’ู…ูŽุนูŽุงุตูู‰ yang memiliki arti Orang yang meninggalkan kemaksiatan.Maksiat adalah sesuatu yang dilarang oleh agama. Sedangkan santri adalah orang-orang yang mendalami dan mempelajari agama secara menyeluruh. Oleh sebab itu, keduanya sangat bertolak belakang dari segi makna. Maka wajar jika santri dikatan sebagai orang yang meninggalkan maksiat.

4. Ra(ุฑ) adalah kepanjangan dari ุฑูุถูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู yang memiliki arti Ridho Allah.

Pengertian Santri Dari Segi Filosofi Bahasa

Santri adalah orang yang sepatutnya mendapat ridlo Allah SWT (amin). Sebab ia berada dalam jalan pencarian ilmu agama. Yang mana dalam beberapa keterangan, orang yang menuntut ilmu berada dalam ridlo Allah SWT. 

5. Ya (ูŠ) adalah kepanjangan dari ุงูŽู„ู’ูŠูŽู‚ููŠู’ู†ู yang memiliki arti Keyakinan.

Keyakinan adalah sebuah keharusan bagi santri. Sebab ia berada dalam koridor ilmu yang tidak diragukan lagi keuntungannya. Ia tidak boleh menyerah dalam proses tholabul ilmi. Karena apa yang ia usahakan akan berbuah manis bila disertai keyakinan.

Selain lima filosofi kata santri diatas, beberapa sumber menyebutkan bahwa kata santri hanya berasa dari empat huruf, yang antara lain terdiri dari sin, nun, ta, ra. Dan dari segi pemaknaan pun memiliki beberapa perbedaan sebagaimana berikut:

โ–บ Sin : Satrul al aurah (menutup aurat)

โ–บ Nun : Naibul ulamaโ€™ (wakil dari ulamaโ€™)

โ–บTaโ€™ : Tarku al maโ€™shi (meninggalkan kemaksiatan)

โ–บ Raโ€™ : Raisul ummah (pemimpin ummat)

Bahkan, yang lainnya malah menyebutkan bahwa kata santri sebagai sebuah singkatan dari bahasa indonesia. Yang kepanjangannya tidak jauh beda dengan apa yang telah saya tuturkan diatas. Yakni:

S : satir al-‘uyub wa al-aurat

Artinya menutup aib dan aurat. Yakni aib sendiri maupun orang lain.

A : aminun fil amanah

Artinya bisa di percaya dalam megemban amanat. 

N : nafi’ al-‘ilmi.

Artinya bermanfa’at ilmunya. Dan inilah yang sangat diidamkan oleh semua santri. Ketika ia telah melalui masa-masa menimba ilmu, pasti harapan akhirnya adalah mampu mengamalkan ilmu tersebut.

T : tarik al-maksiat.

Artinya meninggalkan maksiat. 

R : ridho bi masyiatillah.

Artinya Ridho dengan apa yang diberikan Allah

I : ikhlasun fi jami’ al-af’al.

Artinya ikhlas dalam setiap perbuatan.

Santri is the best โœŠ๐Ÿ˜๐Ÿ˜Š๐Ÿ‘

Posted in Tentang Apapun

Jangan Politisasi Ayat..

Postingan sdr Hariadi Saptadji alumnus SR/ITB melalui FB..
Mohon izin kpd Admin utk posting kajian pakar Sejarah Islam, agar kita tdk diadu-domba dan dicekoki pemahaman yang dipelintir: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”
Ayat di atas sedang populer sekarang. Ayat itu selalu populer menjelang pemilu. Dalam hal pilkada DKI yang salah satu calon kuatnya adalah Nasrani, ayat ini menjadi semakin kuat bergema. Tapi apakah ayat ini soal pemilu? Apakah ini ayat soal pemilihan gubernur? Menurut saya bukan. Sejarah Islam tidak pernah mengenal adanya pemilihan umum. Juga tak pernah ada pemilihan gubernur atau kepala daerah. Satu-satunya pemilihan yang pernah terjadi adalah pemilihan khalifah. Itu pun hanya 5 kali, dan hanya melibatkan sekelompok orang yang tinggal di Madinah. Gubernur khususnya adalah pejabat yang ditunjuk oleh khalifah. Tidak pernah dipilih.
Jadi ayat ini tentang apa? Apakah Wali atau awliya itu soal pemimpin wilayah atau daerah? Bukan. Bagaimana mungkin ada ayat yang mengatur tentang pemilihan pemimpin, padahal pemilihan itu tidak pernah terjadi?
Jadi, apa yang dimaksud? Apa makna wali atau awliya? Wali artinya pelindung, atau sekutu. Ketika Nabi ditekan di Mekah, beliau menyuruh kaum muslimin hijrah ke Habasyah (Ethopia). Rajanya seorang Nasrani, menerima orang-orang yang hijrah itu, melindungi mereka dari kejaran Quraisy Mekah. Inilah yang disebut wali, orang yang melindungi. Kejadian ini direkam dalam surat Al-Maidah juga, ayat 81.
Adapun ayat 51 yang melarang orang menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pelindung itu adalah soal persekutuan dalam perang. Tidak ada sama sekali kaitannya dengan pemilihan pemimpin. Ini sudah pernah saya bahas, dan dibahas banyak orang.
Pagi ini, saya menyaksikan berita pilu. Orang-orang Arab dari Syiria dan Irak masih terus mengungsi. Ke mana? Ke Eropa. Siapa orang-orang Eropa itu? Muslimkah mereka? Sebagian besar tidak. Kebanyakan dari mereka, orang-orang Eropa itu, adalah Nasrani, atau ateis (musyrik). Tapi kini mereka menjadi pelindung bagi orang-orang muslim, persis seperti ketika kaum muslim hijrah ke Habasyah. Jadi, cobalah orang-orang yang rajin melafalkan ayat Al-Maidah 51 itu berkhotbah kepada para pengungsi itu. Katakan kepada mereka bahwa meminta perlindungan kepada Nasrani, menjadikan mereka wali atau awliya itu haram hukumnya. Bisakah?
Ironisnya, dari siapa mereka lari? Dari kaum kafir? Bukan. Mereka lari karena ditindas oleh pemimpin-pemimpin mereka sendiri, kaum muslim. Kaum muslim yang berebut kekuasaan. Utamanya Sunni melawan Syiah. Tahukah Anda bahwa bibit konflik Sunni-Syiah itu sudah terbentuk sejak Rasul wafat? Ketika orang-orang mulai kasak-kusuk untuk mencari siapa yang akan jadi khalifah, padahal jenazah Rasul belum lagi diurus. Permusuhan itu abadi, mengalirkan darah jutaan kaum muslimin sepanjang sejarah ribuan tahun, kekal hingga kini.
Tidakkah kita sebagai kaum muslim malu ketika saudara-saudara kita dizalimi oleh saudara kita yang lain, mereka meminta perlindungan kepada kaum Nasrani dan kafir? Tapi pada saat yang sama mulut kita fasih mengucap ayat-ayat yang memusuhi orang-orang Nasrani, memelihara permusuhan kepada mereka.
Ingatlah, musuh abadi kita sebenarnya bukan Yahudi dan Nasrani, melainkan rasa permusuhan itu sendiri. Rasa permusuhan itulah yang telah mengalirkan banyak darah kaum muslimin, mengalir menjadi kubangan darah sesama saudara. Sesama saudara pun bisa saling berbunuhan kalau ada permusuhan di antara mereka. Kenapa mereka berbunuhan? Politik! Perebutan kekuasaan.
Itulah yang sedang dilakukan banyak orang dengan memlintir Al-Maidah ayat 51. Berebut kekuasaan politik dengan mengobarkan permusuhan. Mereka sedang mengabadikan kebodohan yang sudah berlangsung 15 abad. Anda mau menjadi bagian dari kebodohan itu? Saya tidak. Karena saya tidak mau menjadi pengungsi seperti orang-orang Irak dan Syria.

Posted in Tentang Apapun

Fenomena Dimas Kanjeng dan aa Gatot

Mungkin yang lagi heboh sih masalah Al Maidah 51 dan Ahok. Tapi aku ga mau bahas politik,karena bakal berdebat dan baper๐Ÿ˜Š karena kebanyakan baca postingan tentang hal itu bikin “puyeng”..

Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Keren banget namanya kan?tapi yang lebih keren sih pengikutnya bisa ribuan orang. Bahkan ibu anggota DPR aja bisa ikut2an gitu๐Ÿ˜ apakah benar dia bisa menggandakan uang?? Terus kalo emg bisa,uangnya palsu ga ya.. apakah dia pake bantuan jin,iblis,tuyul?? Mungkin saja..dan itu emang ada. Kalo punya karomah sih ga mungkin..wong dia bukan waliyullah..yang jelas itu sihir!!

Kalo Gatot Brajamusti sih mungkin pake aspat/sabu biar pengikut wanitanya ga sadar. Terus digituin deh๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š tapi kalo suka sama suka,masa dilecehkan sih?โœŒ๐Ÿ˜..ah ga penting juga bahas Gatot.mending bahas Gatot Dewabroto yang jadi jubir Menpora๐Ÿ‘๐Ÿ˜‚